<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477</id><updated>2011-04-21T16:11:11.251-07:00</updated><category term='kolom bang veri'/><category term='kolom tante dita'/><title type='text'>deadly anarchism blog</title><subtitle type='html'>dab, begitu akrab sapaan anak-anak muda jogja. dab, proyek media mahasiswa, mahasiswa yang banal, just wanna scream!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477.post-1513047709136442689</id><published>2009-01-19T10:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T10:57:26.765-08:00</updated><title type='text'>Akhir Dari Kejayaan Manusia</title><content type='html'>ditulis oleh: tim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Matrix Revolution Trilogy merupakan sekuel lanjutan dari dua film sebelumnya yaitu The Matrix dan Matrix Reloaded Explained yang dirilis pada akhir desember 2003। Masih sama seperti film-film terdahulunya, The Matrix Revolution Trilogy merupakan sebuah film action dengan adegan slow motion sebagai trademarknya, namun berisi dialog-dialog yang bernilai filosofis mengenai kenyataan, takdir, kehendak bebas manusia dan kesadaran untuk menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The Matrix Revolution Trilogy bercerita tentang realitas dunia kita sehari-hari ini tidak nyata. Bahwa realitas kita sebenarnya adalah gambar-gambar semu yang diproyeksikan ke otak kita oleh sebuah mesin besar yg bernama Matrix dengan tujuan supaya umat manusia tidak sadar dengan apa kenyataan sebenarnya, yaitu mereka sekedar dijadikan sebagai baterai yang memiliki fungsi menghidupkan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam The Matrix Revolution Trilogy menggambarkan adegan duel antara agen Smith dengan Neo. Untuk dapat masuk ke alam maya cukup dengan  menyambungkan langsung otak manusia dengan komputer, alat tersebut bernama teknologi perangkat 'neuroprosthese'. Neuroprotheses memiliki cara kerja seperti rangkaian IC mikro-elektronik yang dirancang untuk menjalin inter-aksi langsung antara otak dengan komputer. Sistem yang terjalin antara otak manusia dengan komputer.bekerja dengan menerapkan prinsip 'microelectrode arrays' hingga menghasilkan interaksi yang : langsung, seketika, dan independen. Dari awal hingga akhir film ini selalu menggunakan ’neuroprotheses’  sebagai alat penghubung bagi Neo antara dunia nyata dan dunia maya. Dimana berdasarkan film ini Matrix ada surga sedangkan zion merupakan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa depan , pekerjaan manusia tergantikan oleh mesin-mesin berteknologi tinggi hasil ciptaan mereka sendiri. Namun bagaimana jika mesin-mesin yang semula menjadi pelayan itu mendadak melakukan pemberontakan? Tentunya pemberontakan ini sungguh tidak manusiawi (sebab mesin tidak memiliki hati). Dan manusia harus menjalani keterasingannya di alam bawah tanah yang gelap dan pengap untuk menghindari “kebiadaban” mesin-mesin tak bernyawa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir film yang ber-genre sci-fi action ini, Neo (Keanu Reeves) mengambil langkah lain ke depan dalam mencari kebenaran yang dimulai dari perjalanannya ke dunia nyata yang diawali dari The Matrix -- tetapi transformasi tersebut membuatnya kehilangan kekuatan dan terapung-apung antara Matrix dan Machine World. Ketika Trinity (Carrie-Anne Moss) menjaga tubuh Neo yang pingsan, Morpheus (Laurence Fishburne) berjuang menghadapi sistem pengawasan lain yang diciptakan oleh perancang Matrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The Matrix Revolutions, bab terakhir dari trilogy The Matrix, peperangan antara manusia dan mesin kian hebat: tentara Zion, yang dibantu oleh sukarelawan sipil pemberani Zee (Nona Gaye) dan Kid (Clayton Watson), bertempur mati-matian untuk menahan invasi Sentinel sebagai serdadu Machine। Menghadapi kehancuran total, para sukarelawan dari benteng terakhir kemanusiaan itu melawan bukan hanya untuk hidup mereka tapi juga untuk masa depan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sang pangeran kejahatan dunia matriks, pembuat program Smith (Hugo Weaving) dengan licik telah membajak Bane (Ian Bliss), anggota pasukan hovercraft. Merasa lebih kuat, Smith melakukan pengawasan terhadap pasukan mesin dan mengancam akan menghancurkan kerajaan mereka serta dunia nyata dan Matrix. The Oracle (Mary Alice) memberikan petunjuk terakhir pada Neo, bahwa hal itu hanya program dari skema Matrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neo ditahan oleh Merovingian di stasiun kereta yang bernama "mobil avenue" yang merupakan zona transisi matrix dan the source (the machines' mainframe). Di stasiun Neo bertemu dengan keluarga yang terprogramkan termasuk seorang gadis yang bernama Sati. Sang ayah memberi tahu Neo bahwa mobil avenue telah dikontrol oleh sebuah program yang bernama the trainman. Trinity &amp;amp; Morpheus bersiap melakukan perjalanan untuk membebaskan Neo dari operator kereta misterius itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Para Tentara Mesin terus bergerak ke Zion. Dalam hitungan jam, jumlah mereka akan melampaui populasi Zion dan membawa kemusnahan umat manusia. Tidak ketinggalan, Smith (Hugo Weaving) melanjutkan perjalanannya untuk membunuh “Mr Anderson” dan dia juga mengungkap identitas dirinya dan menduplikasi programnya ke dalam sistem Matrix, dan menyebabkan kerusakan. Neo yang berhasil lolos dari Merovirgian bersiap menuju kota mesin dengan menggunakan kapal Logos bersama Trinity dan coba menyelamatkan kerajaan-kerajaan yang ada dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati kota mesin Neo dan Trinity diserang dan dalam pertempuran itu Trinity meninggal. Di kota mesin Neo membuat persetujuan dengan para mesin, yang diwakilkan oleh Deus Ex Machina. Neo memperingatkan mesin bahwa Smith (yang telah berasimilasi pada tiap-tiap program dan manusia di dalam Matriks) di luar pengendalian mesin, dan akan segera menyergap Source. Ia menawarkan untuk membantu menghentikan Smith sebagai pertukaran ceasefire pada Zion. Mesin menyediakan suatu koneksi untuk Neo untuk masuk Matriks dan menghadapi Smith. Terjadilah pertempuran antara Neo dan Smith.                                                      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Niobe (Jada Pinkett Smith), Neo dan Trinity memilih untuk melakukan perjalanan berbahaya yang melintasi bumi langsung ke jantung Machine City. Di kota mekanik metropolis yang luas itu, Neo berhadapan langsung dengan sumber kekuatan dunia Machine – the Deus Ex Machina – dan mencapai persetujuan yang merupakan satu-satunya harapan untuk dunia yang sedang sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, secuil dari kisah the matrix revolution di atas sesungguhnya menyimpan banyak pelajaran berharga. Salah satunya, “Jangan pernah mendewa-dewakan teknologi”. Kira-kira demikianlah pesan yang ingin disampaikan sutradara, Wachowski bersaudara kepada para penggemar film se-dunia. Memang teknologi banyak membawa manfaat (terutama dalam berkomunikasi), namun teknologi juga banyak membawa kerugian bagi umat manusia (perang senjata, dan sebagainya). Dalam film ini, umat manusia diceritakan telah menjadi korban keganasan teknologi yang telah mereka  ciptakan sendiri, sehingga tersingkirkan dari dunia nyata dan terpaksa menjalani hidup di dunia maya (dunia matrix).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film The Matrix Revolution Trilogy merupakan ’angin segar’ bagi para ilmuwan untuk dapat mengembangkan berbagai penelitian teknologi rekayasa canggih bidang 'neuroprotheses' yakni eksperimen kajian tentang penelitian 'interfaces' guna mengintegrasikan otak manusia dengan komputer sangat yakin akan segera terealisasikannya fenomena serupa model film "Matrix".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset terkini 'neuroprotheses' amat terdorong dengan kemajuan teknologi mikroelektronik yang memungkinkan didapatkannya mikrochip berukuran mikroskopik namun berkinerja yang amat tinggi. Kemajuan lain yang juga menunjang antara lain: teknologi pembedahan mikro dalam dunia kedokteran, teknologi miniatur robotik, keandalanan jaringan wireless, artificial intelligent, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang akan sama mengejutkan agaknya dengan kemajuan eksperimen "Finger Whispering Phone" karya peneliti NTT-DoCoMo Jepang yang yakin tahun 2005 dapat merealisasikan suatu model perangkat telepon seleluler yang elemen pengantar suara untuk bicara cukup disalurkan lewat rongga tulang lengan dan jari tangan manusia. Sementara perangkat terminal /IC hand-set pun cukup berupa arloji digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya rekayasa teknologi perangkat 'neuroprosthese' memiliki beberapa jenis kegunaan dengan prinsip kerjanya masing-masing , yakni:&gt; Perangkat bantu pendengaran 'hearing aid' bagi orang yang menderita kelainan atau gangguan pendengaran.&gt; Perangkat bantu kerja otot bagi orang yang mengalami kelumpuhan sebagian otot anggota tubuh akibat cedera pada syaraf sumsum tulang belakang.&gt;Perangkat untuk membantu meminimalisasikan aktivitas otak yang tidak normal, misalnya untuk kasus epilepsi atau penyakit Parkinson's.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian telah sangat terbukti bahwa dengan beredarnya sekuel The Matrix Revolution Trilogy sebuah film yang sarat dengan filosofi hidup dan juga menggambarkan betapa cepat teknologi dapat berkembang pesat hingga dapat menghubungkan manusia dengan dunia nyata dan dunia maya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3211627570134741477-1513047709136442689?l=dabmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/1513047709136442689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/akhir-dari-kejayaan-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/1513047709136442689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/1513047709136442689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/akhir-dari-kejayaan-manusia.html' title='Akhir Dari Kejayaan Manusia'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477.post-5664000872048190886</id><published>2009-01-16T08:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T08:02:36.829-08:00</updated><title type='text'>Bumi Kita yang Terluka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditulis oleh: Ahmad Alwajih&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pernah mendengarkan sepenggal lirik lagu yang dibawakan oleh Koes Ploes beberapa dekade silam ? “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Memang benar, Indonesia adalah sepenggal surga yang melimpah akan hasil alamnya. Bukan hanya itu, dengan dukungan iklim dan cuaca khas daerah tropis, bumi Indonesia mampu menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan. Mulai dari tumbuhan untuk bahan pangan, maupun tumbuhan yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia lainnya. Untuk membangun rumah, misalnya. Tidak berlebihan jika orang-orang terdahulu menyebut bumi kita ini gemah ripah lohjinawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja akhir-akhir ini kebesaran nama dan keindahan bumi pertiwi tengah menghadapi ujian yang teramat berat. Datangnya bencana yang silih berganti telah mengubah keindahan menjadi ketakutan yang mencekam. Satu bencana datang, belum sempat habis penanganannya muncul lagi bencana yang lain. Belum habis peluh airmata dan selesai perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana Tsunami di Aceh, muncul lagi “momok” menakutkan berupa lumpur yang menelan banyak rumah warga di Sidoarjo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kejadian semacam inilah yang menimbulkan ketakutan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketakutan ini terbukti ketika gempa berkekuatan 5,2 skala richter mengguncang daerah DI Yogyakarta dan sebagian wilayah Klaten (sumber: Harian Kedaulatan Rakyat 16/11/2008). Takut dan rasa panik sempat mewarnai aktifitas warga setempat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, bahkan sempat muncul kekhawatiran di benak warga akan adanya gempa susulan yang lebih besar seperti gempa dahsyat yang meluluhlantakkan Yogyakarta tahun 2006 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ketakutan ini tidak perlu terjadi pada diri kita. Sebab, Indonesia adalah tanah air kita, rumah kita sendiri. Dan seharusnya rasa aman dan nyaman yang ada di benak kita, bukan malah sebaliknya. Bumi kita yang tengah sakit ini membutuhkan perawatan kita, bukan sikap “permusuhan” yang terwujud pada ketakutan bahkan trauma. Namun sayangnya tindakan-tindakan kita selama ini malah membuat luka bumi makin melebar dan parah. Di sisi inilah letak tanggung jawab manusia perlu dipertanyakan, apakah selama ini sudah benar cara kita mengolah dan mengelola bumi berikut isinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita pahami satu hal. Manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan Tuhan untuk menempati bumi dan memanfaatkan hasilnya untuk kepentingan mereka sendiri. Kebebasan di sini bukan berarti bebas yang sebebas-bebasnya. Tetap ada batasan-batasan yang harus ditaati oleh manusia. Batasan-batasan itu berupa sikap bertanggung jawab untuk mengelola isi bumi. Tujuannya tentu saja untuk menjaga keharmonisan alam dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merawat dan menjaga bumi kita yang terluka ini pun termasuk salah satu sikap tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Ironisnya, tidak banyak yang menyadari hal ini. Bahkan dengan kejam dan tanpa sungkan, kita masih saja terus-menerus melakukan berbagai bentuk eksploitasi dan pencemaran terhadapnya. Yang paling ringan dan akrab dengan keseharian kita adalah pencemaran udara melalui kendaraan-kendaraan bermotor milik kita sendiri. Akibat dari tindakan kita, bumi tempat kita tinggal terasa “gerah” dan tidak nyaman atau bisa disebut juga sebagai efek rumah kaca. Contoh yang paling ringan saja membawa dampak berbahaya bagi kelangsungan hidup bumi ini, bagaimana dengan bentuk pencemaran yang berat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur adalah contohnya. Masyarakat menjadi sengsara karena rumah-rumah mereka terbenam oleh lumpur yang terus meluap dari perut bumi entah sampai kapan. Usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan luapan lumpur masih saja nihil. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mendirikan tenda-tenda darurat serta bantuan berupa pangan dan obat-obatan bagi korban lumpur Lapindo. Mengganti kerugian materi pun sepertinya berjalan tersendat-sendat. Masih banyak warga yang mengeluhkan dan tidak puas dikarenakan jumlah ganti rugi yang tidak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan dan bentuk kemajuan peradaban lainnya seharusnya memperhatikan keseimbangan alam. Bukan malah membuat kerusakan di atas bumi menjadi semakin parah dan tak tersembuhkan. Oleh karena itu, tidak ada solusi yang lebih jitu selain kembali merawat bumi kita yang kini renta dimakan usia dan terengah-engah menahan luka akibat banyaknya bencana. Caranya, belajar dari pengalaman bencana-bencana yang telah lalu, di situlah langkah pertama kita ambil. Tentu kita tidak ingin derai tangis dan duka lara akibat bencana kembali menghiasi wajah-wajah yang tak bersalah. Pertama, tentu saja semua harus dimulai dari lingkungan kita yang terdekat. Sikap yang terbaik adalah menghormati lingkungan, serta tidak lagi memperlebar luka bumi ini dengan tindakan pencemaran yang kita lakukan selama ini. Ke dua, perlu dukungan dari pemerintah untuk menjaga usaha perawatan yang kita lakukan tetap konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan dari pemerintah bisa berupa tindakan yang tegas bagi pelaku perusak keseimbangan alam. Selain itu, ketanggapan dan keseriusan pemerintah dalam menangani bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia harus ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat merasakan trauma dan ketakutan berada di rumahnya sendiri, bumi Indonesia, akibat lambatnya penanganan dari pihak pemerintah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3211627570134741477-5664000872048190886?l=dabmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/5664000872048190886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/bumi-kita-yang-terluka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/5664000872048190886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/5664000872048190886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/bumi-kita-yang-terluka.html' title='Bumi Kita yang Terluka'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477.post-2868486142976166057</id><published>2009-01-16T07:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T08:00:44.063-08:00</updated><title type='text'>AROGANSI IKLAN POLITIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditulis oleh: Dendi H. Nanda&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Iklan politik memang merupakan bentuk kampanye baru bagi kita. Di Indonesia, menurut Tristanto, iklan politik pertama kali muncul pada pemilu tahun 2007 (Suara merdeka, 28 Mei 2005). Namun sekarang iklan politik begitu menjamur seiring dengan akan dilangsungkanyan pemilu 2009. Banyak tokoh-tokoh politik dari berbagai macam partai membuat iklan politik. Misalnya, iklan partai Gerindra dengan Prabowo sebagai bintang iklannya, Pan yang mengusung tema "hidup adalah perjuangan" yang dikumandangkan oleh Sutrisno Bachir, dan iklan PKS yang kini menjadi kontroversi oleh banyak tokoh politik serta iklan –iklan politik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda tahu apa itu iklan politik? Budi Setiono dalam bukunya yang berjudul "Iklan dan Politik" menyatakan ada 3 macam kriteria iklan politik. Pertama, periklanan pamong yaitu periklanan yang mempromosikan tentang kebijakan kepamongan atau oleh penyelenggara negara. Kedua, periklanan politik, yaitu yang mempromosikan pengetahuan , pengelaman, atau pendapat suatu kelompok tentang kebijakan publik. Ketiga, periklanan pemilihan umum, yaitu periklanan partai politik pemilihan legislatif serta presiden dan wakil presiden maupun pemilihan kepala daerah , dan disiarkan pada periode kampanye yang ditetapkan oleh lembaga resmi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini iklan politik dianggap strategi paling jitu untuk menarik massa. Bahkan di AS iklan politik menjadi komoditas utama untuk menarik dukungan rakyat, meski menelan biaya yang sangat besar ini tidak menyurutkan semangat para politisi di untuk mengiklankan diri di televisi. Menurut Yulianti, pada tehun 2004 di Amerika Serikat biaya iklan untuk 30 detik saja mencapai 4,5 juta USD (Kompas.15;2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai mana dengan iklan politik di Indonesia? Survei Nielsen Media Research menunjukkan, selama masa kampanye Pemilu 2004, PDI-P dan Partai Golkar paling banyak beriklan. PDI-P mengeluarkan dana Rp 39,25 miliar untuk satu bulan kampanye, sedangkan Partai Golkar membelanjakan Rp 21,75 miliar (http://www.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/belanja-iklan-politik-bakal-membengkak.html)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis memang, melihat kemiskinan masyarakat kita yang sedang merajalela, para politikus kita dengan mudahnya mengeluarkan dana yang sangat besar demi kepentingan popularitasnya dan kepentingan partai politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari iklan kampanye politik yang muncul sendiri pun tidak terlalu tampak perbedaan pesan yang ingin ditampilkan lewat iklan-iklan tersebut. Isu-isu seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan pertanian, dijadikan senjata utama olah para politikus untuk memperolah perhatian dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain itu, Sosok kandidat sebagai penolong dan orang yang prihatin dan peduli terhadap lingkungan sekitar dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, terutama rakyat kecil, sangat mendominasi iklan yang di tampilkan dilayar televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yulianti (Kompas, 15 Maret 2004) Iklan politik tidak beda dengan promosi produk. Keduanya berusaha menjual sesuatu kepada sasaran konsumen tertentu. Memang iklan politik lebih rumit daripada, iklan sabun atau obat nyamuk. Jika berhasil, iklan politik bisa meraih sejumlah target, seperti meningkatkan popularitas calon, meyakinkan pemilih yang masih bingung, meraih dukungan, menyerang pesaing dan penentang, menjelaskan visi dan misi, dan menjaga citra sang calon. http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0403/15/opini/908533.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iklan Politik Menipu Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah para politisi memasang iklan politiknya di televisi merupakan sebuah penipuaan yang berlangsung secara terang-terangan, bagaimana tidak, masyarakat hanya tahu tokoh poliknya saja tanpa dapat menilai kapasitas tokoh yang di iklankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamat politik dari universitas Indonesia arbi sanit (kompas, 22 mei 2008) "Lewat iklan itu, masyarakat hanya diajak untuk memilih orang yang populer. Ini menjebak rakyat karena pemimpin tidak cukup bermodalkan popularitas. Dia harus memiliki pengalaman dan terbukti teruji".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, iklan membuat orang dapat berubah citra dalam waktu singkat. Dengan satu kalimat saja orang tersebut dapat mempengaruhi banyak masyarakat. Apa lagi dengan keadaan masyarakat Indonesia yang notabenya kurang pendidikan bahkan banyak yang belum menempuh jalur pendidikan.ironisnya, iklan tersebut dapat berpengaruh banyat terhadap suara rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan politik bagaikan kamuflase, ini dapat kita lihat di beberapa iklan partai politik, bagaimana seorang tokoh politik yang kalem, berbalut kemeja, bersuara bagaikan seorang pahlawan dan dengan lantangnya menyuarakan pembelaan terhadap rakyat miskin dan pada akhirnya setelah tokoh tersebut terpilih sudah dapat kita terka kemana arah pikiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bentuk iklan politik yang digunakan dan ditampilkan oleh para elit politik maupun partainya, sudah seharusnya orang-orang tersebut mengusung tema iklan yang lebih mendidik dan sesuai dengan keadaan dan kepentingan rakyat pada saat ini. Serta mengusung tema iklan yang lebih sportif dan lebih bijak agar tidak ada lagi prasangka negatif dari rakyat sebagai aktor utama pada pemilahan umum mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dosen Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto(Kompas 22 Mei 2008)" iklan politik merupakan perkembangan demokrasi yang wajar. Hanya saja, dalam konteks Indonesia, iklan itu harus dipasang secara bijak. "Jika tidak, bukan saja target yang diinginkan tidak tercapai, tetapi justru makin memapankan image negatif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sebagai salah satu pengawas pemilu melalui kpu juga sudah seharusnya mengawasi praktik periklanan. Tarif Iklan politik serta besarnya belanja partai politik maupun kandidat seharusnya dikonfirmasi secara transparan agar tidak terjadi kecurigaan oleh masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3211627570134741477-2868486142976166057?l=dabmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/2868486142976166057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/arogansi-iklan-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/2868486142976166057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/2868486142976166057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2009/01/arogansi-iklan-politik.html' title='AROGANSI IKLAN POLITIK'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477.post-4130448627234759498</id><published>2008-12-11T08:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T08:26:30.151-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom tante dita'/><title type='text'>POLITIK DALAM ERA MEDIASI</title><content type='html'>oleh: dita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Menjelang pemilu 2009 mendatang, para elite politik dari berbagai partai politik berlomba-lomba membangun citra positif dihadapan publik. Sarana tepat untuk menyalurkan visi dan misi mereka ialah melalui media massa. Media memiliki kemampuan yang hebat dalam pembentukan opini publik dan citra. Para elite politik akan mengembangkan diri melalui media dengan tujuan menguasai dan menciptakan sendiri opini publik mengenai mereka. Kemampuan media menjadi amunisi mereka terutama pada saat menjelang pemilu seperti saat ini. Sebab berita-berita yang disajikan media massa langsung mengenai publik tanpa perantara (hypodermic needle theory). Biasanya mereka menggunakan iklan politik berupa penayangan iklan di sejumlah media penyiaran maupun pemasangan baliho dijalan. Selain itu, mereka juga melakukan safari politik berupa kunjungan langsung kepada masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah yang pada akhirnya akan diliput dan diberitakan oleh media. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan respons positif dari masyarakat pada hari H pemilu mendatang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Baik disadari ataupun tidak, media dianggap sebagai kendaraan kepentingan elite politik untuk tebar pesona. Hal itu dikarenakan media mampu menyampaikan pesan-pesan politik dari para elite politik kepada publik. Begitu pula sebaliknya, media dapat menjadi sarana publik untuk curhat mengenai politik. Publik dapat mengemukakan opini mereka, tuntutan, kritik, saran, reaksi, atau apapun keinginan mereka atas kebijakan yang akan dibuat elite politik bersangkutan apabila memenangkan pemilu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Relasi antara politik dan media bersifat mutual. Keduanya saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan. Politik membutuhkan media untuk menyalurkan visi-misi kampanyenya dalam rangka membentuk citra dan menumbuhkan opini publik yang baik mengenai dirinya. Sedangkan media memerlukan isu-isu politik teraktual sebagai bahan pemberitaan dalam rangka menarik interest publik terhadap media tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Berkampanye dengan Etika Merayu Massa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Filsuf kontemporer, Henry W.Johnstone mengatakan “Ciri khas yang menandai manusia pada tingkatan mendasar adalah kemampuan untuk membujuk dan dibujuk”. Ungkapan tersebut menjadi sangat bermakna dalam suasana politik pada saat kampanye ini. Kampanye membutuhkan kreativitas untuk merayu massa. Kekreativitasan tersebut dituangkan dalam program-program yang dianggap berkaca pada nilai-nilai fundamental demokrasi seperti debat, diskusi, dan pidato melalui berbagai bentuk penggunaan media baik TV, radio, maupun surat kabar. Namun yang perlu dicatat, keberhasilan dari suatu sistem demokrasi tidak hanya dinilai dari hasil kampanye dalam pemilu, tetapi juga dinilai dari kemampuan para elite politik dalam mengedepankan etiket berkampanye (Nugroho,2005:4).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pada situasi rayu-merayu massa yang hadir ditengah-tengah publik, terdapat beberapa hal yang menjadi tolok ukur dalam berkampanye mengingat situasi tersebut bersifat kompleks dan saling mempengaruhi antara nilai-nilai yang baik dan yang buruk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pertama, dalam berkampanye elite politik harus pandai meneliti pesan. Meneliti pesan dalam konteks ini adalah kemampuan menyampaikan pengetahuan secara komprehensif disertai kepekaan pada isu-isu yang relevan dan implikasinya. Dengan kata lain sebuah statement didasarkan dari informasi yang dapat dipercaya, keberagaman sudut pandang mengenai subyek pesan, dan pengetahuan yang menjadi kekuatan potensial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Kedua, elite politik dalam melancarkan strategi-strategi kampanyenya dilarang menggunakan cara yang dapat mempengaruhi penerima (publik) atau menekan publik dengan menghilangkan proses pikiran sadarnya atau melakukan penekanan terhadapnya. Sebab pada akhirnya akan menghasilkan sikap pengembangan penerimaan pesan yang tidak kritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Ketiga, pengkampanye (elite politik) harus memiliki kesadaran kritis untuk tidak melakukan suatu pernyataan. Pengkampanye tidak boleh melakukan jenis kampanye yang bermain pada kehendak tersembunyi maupun didasarkan pada rasa bermusuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Ketiga poin diatas merujuk pada etika merayu massa antara tujuan merangkul massa pemilih sebanyak mungkin dan berhadapan dengan etika yang mengandung nilai benar-salah. Etika ini merupakan alat kontrol bagi pengkampanye untuk tidak meraih kemenangan dengan menghalalkan segala cara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Karakteristik Liputan Politik dalam Media sebagai Metode Merayu Massa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Brian Mc Nair dalam bukunya An Introduction to Political Communication (1995:2-15) menyatakan fungsi media massa dalam komunikasi politik merupakan penyampai pesan-pesan politik sekaligus pengirim pesan politik yang dibuat para jurnalis pada audiensnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan yang pada akhirnya berita tersebut dapat membuat publik terkesima (Hamad,2004:1). Politik dan media massa, dua elemen yang saling berkaitan. Pertama, politik berada pada era mediasi dimana kehidupan politik tidak lepas dari media massa. Bahkan para elite politik selalu berusaha menarik perhatian media massa melalui aktivitas-aktivitas politiknya untuk membius publik. Kedua, peristiwa politik selalu memiliki nilai berita sekalipun peristiwa politik tersebut merupakan aktivitas politik rutin belaka seperti rapat partai. Dapat kita saksikan bahwa peristiwa politik selalu menghiasi berbagai macam media setiap harinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Liputan politik cenderung lebih rumit bila dibandingkan dengan liputan bidang-bidang lainnya. Hal tersebut dikarenakan liputan politik memiliki kekuatan dalam pembentukan opini publik yang nantinya berubah menjadi senjata untuk merayu massa. Para elite politik mengharapkan berita-berita politik dapat mempengaruhi sikap publik mengenai permasalahan yang dikemukakan oleh mereka. Pembentukan opini ini menjadi tujuan utama bagi para elite politik, karena opini publik akan mempengaruhi visi dan misi serta pencapaian politik mereka. Mereka menginginkan publik terlibat dalam tindakan politik melalui pesan-pesan politik di media yang mereka utarakan. Selanjutnya, dampak dari pembentukan opini publik adalah pemberian pengaruh sosialisasi dan partisipasi politik, pemberian suara, dan kebijakan pejabat dalam mengambil keputusan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pada umumnya media massa melakukan tiga kegiatan sekaligus dalam rangka membentuk opini publik khususnya dalam perspektif politik (Hamad,2004:2). Pertama, dengan menggunakan simbol-simbol politik. Kedua, melakukan strategi pengemasan pesan. Ketiga, melakukan fungsi agenda media (media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian publik pada gagasan atau peristiwa politik tertentu). Ketika melakukan hal tersebut, bisa jadi media berada di bawah pengaruh-pengaruh faktor internal seperti kebijakan redaksional yang terkait dengan kekuatan politik tertentu, relasi media dengan partai politik tertentu, serta faktor eksternal seperti tekanan publik/pembaca, dsb. Apabila faktor internal tersebut semakin intens memberikan pengaruh terhadap suatu media, maka pada akhirnya media tersebut akan menjadi media partisan yang bukan lagi membela kepentingan publik tetapi berpihak pada golongan atau partai politik yang bersangkutan. Masalah kapital menjadi alasan mendasar bagi media untuk bertransformasi menjadi media massa partisan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Demagog sebagai Prototipe Perayu Massa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Artikel Haryatmoko dengan judul Demagogi dan Komunikasi Politik (Kompas, 25 April 2006) mendefinisikan demagog sebagai orang yang meminjamkan suaranya kepada rakyat. Demagog merupakan prototipe perayu massa. Para elite politik selaku politikus cenderung demagog. Politikus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dilema ataupun situasi yang membingungkan publik dengan muncul memasang wajah malaikat sejumlah kategori sosial rakyatnya. Mereka bersembunyi di balik kata-kata yang tidak pasti untuk menghindari tuntutan penerapannya terlebih menjelang pemilu dan pada masa kampanye seperti sekarang ini. Mereka meyakinkan publik bahwa mereka dapat merasakan dan berpikir seperti publik. Pernyataannya mengalir bersamaan dengan pendapat pribadinya. Ujung-ujungnya muncul kesesatan opini publik. Publik terperangkap dalam janji-janji yang mereka kemukakan selama kampanye. Publik tertipu oleh rayuan mereka yang hanya manis di bibir untuk sesaat. Opini ini dibangun melalui ambiguitas statement sehinga menimbulkan kesalahan multi tafsir yang bisa ditafsirkan sesuai dengan harapan publik. Kata yang lebih tepat ialah merayu untuk menghasilkan tipu daya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Demagogi sendiri semakin canggih dan gencar diterapkan seiring dengan berkembangnya sarana komunikasi. Sebab menjamurnya sarana komunikasi mempengaruhi media komunikasi politik. Para elite politik menggunakan hampir seluruh teknologi komunikasi yang ada sebagai lidah penyambung kepentingan politiknya dan kampanye yang dilakukannya. Sedangkan sistem media komunikasi politik dipengaruhi tiga hal (tumasouw.tripod.com). Pertama, kelahiran berbagai bentuk jurnalistik seperti talk show, top news, dsb. Kedua, perkembangan teknologi komunikasi memungkinkan tersedianya berita baru setiap saat melalui sistem penyebaran internet dan sumber-sumber informasi lainnya. Ketiga, sistem komunikasi, organisasi, dan aliran komunikasi massa tidak lagi dibatasi oleh negara. Implikasinya, para elite politik semakin leluasa dalam mengeluarkan jurus-jurus merayu massa. Entah rayuan tersebut bersifat permanen atau semi permanen. Permanen yang berarti ucapan disertai implementasinya dan semi permanen yang berarti hanya berupa ucapan tanpa adanya realisasi yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Media dalam khazanah politik, selayaknya patut menjadi cermin yang memantulkan apa adanya realitas politik. Publik akan menilai realitas politik tanpa adanya distorsi atau campur tangan media massa dalam kehidupan politik. Dalam hal ini, media harus berkomitmen untuk mengembangkan kepentingan demokrasi dengan tidak terjebak pada masalah kapital sebagai stagnasi untuk mengemukakan fakta-fakta politik. Media yang mengabdi pada asas demokrasi akan memberi kesempatan yang sama bagi para elite politik untuk berbicara kepada publik. Dengan demikian, peluang para elite politik yang sedang merayu massa dengan cara semi permanen dapat dihindarkan. Seni merayu massa yang sering dilakukan para elitik politik terutama pada saat menjelang pemilu harus mendapatkan perhatian lebih dari media. Media harus mengkritisi setiap langkah yang dilakukan para elite politik untuk kebaikan bangsa ini kedepannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3211627570134741477-4130448627234759498?l=dabmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/4130448627234759498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2008/12/politik-dalam-era-mediasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/4130448627234759498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/4130448627234759498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2008/12/politik-dalam-era-mediasi.html' title='POLITIK DALAM ERA MEDIASI'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3211627570134741477.post-1133000948995702393</id><published>2008-12-11T07:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T08:41:59.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom bang veri'/><title type='text'>Lisa dan Televisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;oleh: Bang Veri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lisa cemberut di hadapan cermin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Disesalinya badan yang tak semolek model bintang film&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dihinanya sendiri wajah yang tak secantik model iklan sabun&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dijambaknya sendiri rambut yang tak selurus model iklan sampo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tubuh Lisa yang asli telah hilang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dia tercampakkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lisa tinggal imitasi dan sublim&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Yang melacur di rimba kebohongan televisi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku terperagah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ku temukan Lisa menangis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Didepan televisi, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;lalu menjerit, dan..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dilemparnya layar televisi dengan gelas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3211627570134741477-1133000948995702393?l=dabmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dabmedia.blogspot.com/feeds/1133000948995702393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2008/12/lisa-dan-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/1133000948995702393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3211627570134741477/posts/default/1133000948995702393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dabmedia.blogspot.com/2008/12/lisa-dan-televisi.html' title='Lisa dan Televisi'/><author><name>ric blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11074140608570741489</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
